MENU
LINK JOURNAL


JASAPUSPERTI














writing service bachelor

MOU Perpusnas & UPS Tegal

Sebanyak 49 perguruan tinggi di Jawa Tengah melakukan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Perpustakaan Nasional, pada Senin, (16/12). Penandatanganan MOU dilakukan di sela-sela Seminar Nasional dan Musyawarah Daerah (Musda) Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) Jawa Tengah di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dalam draft MOU tersebut kedua pihak sepakat untuk:

  1. Pengembangan sumber daya manusia bidang perpustakaan;
  2. Pengembangan dan pemanfaatan aplikasi otomasi perpustakaan Inlislite;
  3. Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di bidang perpusdokinfo dan perluasan jejaring perpustakaan melalui pengembangan pangkalan data dan repository digital : Indonesia OneSearch (IOS), iPusnas dan publikasi ilmiah;
  4. Pengembangan dan pemanfaatan bersama koleksi perpustakaan;
  5. Pertemuan ilmiah, penelitian dan publikasi bersama dalam bidang perpustakaan;
  6. Penghimpunan dan pelestarian Karya Cetak Karya Rekam (KCKR);
  7. Pelaksanaan promosi perpustakaan dan pengembangan budaya baca.

Universitas Pancasakti Tegal sendiri diwakili oleh Rektor Universitas Pancasakti Tegal Dr. Burhan Eko Purwanto, M.Hum dan Kepala Perpustakaan Pusat Ibu Nani Hestuti, S.I.Pust.

Dalam kesempatan membuka kegiatan, Ketua FPPTI Provinsi Jawa Tengah Wiji Suwarno menekankan pentingnya perpustakaan dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi. Bukan hanya gudang buku melainkan pusat informasi. Di beberapa kampus ternama dunia, keberadaan perpustakaan sangat diperhatikan. Bahkan, menjadi salah satu indikator perguruan tinggi yang memiliki kualitas istimewa. Perguruan tinggi yang baik semestinya juga memiliki kualitas perpustakaan yang baik pula.

"Para rektor dan direktur perguruan tinggi sebenarnya tahu manfaat perpustakaan, hanya saja kurang memerhatikan. Oleh sebab itu, mudah-mudahan dengan penandatanganan MOU ini menjadi alat picu, titik balik dari perguruan tinggi," imbuh Wiji.

Sedangkan Rektor UMS Sofyan Anif mengomentari perkembangan Iptek yang sadar dengan kecanggihan secara perlahan menggiring orang tidak lagi ke perpustakaan. Merasa semuanya bisa dijangkau dengan teknologi dan aplikasi. IPTEK memang memberikan kemudahan. "Justru perpustakaan kunci strategis jika kita bicara tentang kualitas pendidikan. Artinya makna dari perpustakaan harus diluaskan. Dan suatu keilmuan tidak akan berkembang jika tidak berjejaring," ucap Sofyan.

Senada dengan Rektor UMS, Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpusnas Joko Santoso mengatakan bahwa esensi dari berjejaring dalam pelaksanaan MOU adalah perumusan kegiatan sesuai kesepakatan.

Dalam paparannya Joko Santoso menjelaskan perkembangan dan persebaran perpustakaan dari ujung barat hingga ke timur Indonesia. Dari 164.610 total perpustakaan yang ada di Indonesia, 6.552 diantaranya adalah perpustakaan perguruan tinggi. Sedangkan persebaran perpustakaan lebih besar berada di pulau Jawa sebanyak 47,89 % dan Sumatera 23,55%. Makin ke timur semakin kecil. "Dalam artian sederhana, terjadi disparitas persebaran ilmu pengetahuan dan informasi," jelasnya.

Nah, untuk mengatasi kesenjangan tersebut pengembangan perpustakaan digital merupakan salah satu solusi yang diberikan oleh Perpusnas. Termasuk didalamnya pengembangan perpustakaan berbasis moda transportasi sebagai bagian integral untuk mengatasi kesenjangan akses masyarakat memperoleh pengetahuan dan informasi.

Survei World Culture Index memberikan skor 52,92% kepada Indonesia pada aspek kegemaran membaca. Nilai tersebut menempatkan aktivitas membaca masyarakat Indonesia masuk kategori sedang. Meski terus mengalami pertumbuhan dari tahun 2016.

"Ini menunjukkan bahwa bukan minat baca masyarakat yang kurang melainkan akses ketersediaan memperoleh bahan bacaan dan kuantitas sumber bahan bacaan yang belum memadai," beber Kepala Biro Hukum dan Perencanaan.

*SUMBER